STT
Review Buku
Review 1:
Review Buku
Review 1:
Dari rumah belajar tentang dongeng dari suku Jawa dengan judul Bancakan
Saya akan mereview buku dari rumah belajar tentang dongeng dari suku jawa dengan Judul bancaan, karya Sudadi.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa, Diterbitkan pada tahun 2018 oleh Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa Jalan Daksinapati Barat IV Rawamangun Jakarta Timur.
‘Bancakan’ adalah istilah dalam bahasa Jawa yang sudah
diserap dan menjadi bagian dari kosakata dalam bahasa Indonesia. Menurut KBBI
daring, bancakan punya 3 arti, yaitu 1) selamatan; kenduri; 2) hidangan yang
disediakan
dalam selamatan; 3)
selamatan bagi anak-anak dalam merayakan ulang tahun
atau memperingati hari kelahiran disertai
pembagian makanan atau kuekue.
Acara bancakan
biasanya diperuntukkan bagi anakanak kecil (usia TK, SD, atau SMP). Kenduri
adalah bentuk ritual resmi
yang biasa dilakukan oleh orang
dewasa untuk
memanjatkan doa bersama. Bancakan adalah bentuk kenduri
yang jauh lebih sederhana. Sering orang
menggunakan kata bancakan untuk menyebut kenduri atau
selamatan sederhana dalam merayakan pernikahan atau khitan.
Awalnya, bancakan digunakan untuk menyebut sajian masakan (kuliner) tradisional dari Jawa Tengah atau Jawa Timur yang terdiri atas nasi dilengkapi sayur-sayuran hijau yang dicampur parutan kelapa berbumbu manis, pedas, asin yang disebut ‘urap’ dengan lauk sederhana seperti telur rebus dan ikan asin goreng. Sejak zaman dulu hingga tahun 70-an, keluarga- keluarga Jawa di desa masih biasa mengadakan acara bancakan. Sajian nasi bancakan ini umumnya ditempatkan di tengah tampah (wadah bulat bergaris tengah sekitar satu meter yang terbuat dari anyaman bambu tipis) atau wadah lain. Tempat bancakan itu bisa diberi hiasan daun pisang. Sebelum membagikan nasi bancakan, biasanya tuan rumah mengajak anak-anak yang hadir untuk mengamini doa yang dipimpin tuan rumah (biasanya ibu atau ayah anak tersebut). Doa yang dipanjatkan (bisa dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia) sebenarnya berisi permohonan kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan anak tersebut. Setelah doa dibacakan sekaligus diamini oleh anak-anak yang hadir, tuan rumah membagi-bagikan nasi, urap, dan lauk-pauk. Mereka cukup duduk diam menanti pembagian jatah nasi bancakan.
Berawal dari kisah jaka tarup yang beristri bidadari bernama Nawang Wulan yang kemudian mempunyai anak bernama Nawang Sih. Namun kemudian Nawang Wulan meninggalkan bumi kembali ke langit karena menemukan kembali selendangnya yang disembunyikan Joko Tarup. Anaknya kalau nangis disuruh dibawa keluar rumah waktu malam purnama, maka akan dihibur Nawang Wulan dari langit. Jika sakit disuruh buat bancakan yang dibagikan kepada anak-anak sekitar dan diminta didoakan anak2 tadi supaya nawang sih diberi kesehatan.
LINK:
http://youtu.be/0ryysGgpMI8?hd=1
Review 2:
Review dari rumah belajar dengan judul ANDI SI PENGENDANG CILIK, yang ditulis oleh Eko Wahyudi
Diterbitkan pada tahun 2018 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jalan Daksinapati Barat IV Rawamangun Jakarta Timur. Andi si Pengendang Cilik mengisahkan Andi Kecil sebagai pemain ebeg (sejenis tari kuda lumping) yang juga jago bermain kendang. Darah seni Andi mengalir dari Sarjo, sang ayah yang juga seniman kuda lumping sekaligus pengasuh kelompok kesenian di desanya. Ia tinggal di Desa Seling, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah.
Ebeg adalah sebutan lain untuk tari kuda lumping atau kuda kepang di Kebumen, Jawa Tengah. Disebut demikian, karena wujudnya menyerupai kuda yang d ibuat dari bahan anyaman kepang (serat bambu). Ketika menari, biasanya pemain kuda kepang membawa senjata berupa bilah bambu yang berfungsi sebagai pedang. Dalam beberapa adegan, pemain sering memukulkan bilah bambu tersebut pada badan kuda kepang, sehingga mengeluarkan bunyi beg-beg-beg. Oleh karena itu, masyarakat menamai tarian tersebut ebeg.
Awalnya andi adalah anak penikmat ebeg. Namun dia masih anak2 sedangkan ebeg biasa dimainkan oleh orang dewasa. Sampai kemudian pak sarjo ayah andi membentuk kelompok pemain ebeg anak-anak. Pak Sarjo memang penari asli. Sudah puluhan tahun ia menggeluti ebeg. Sekecil apa pun gerakan yang kurang pas, akan diketahuinya dengan mudah.Pada awalnya andi menjadi penari ebeg, namun kemudian Keputusan Pak Sarjo menjadikan Andi sebagai pengendang karena melihat bakat andi. Seorang penari ebeg yang dielu-elukan penonton memang memuaskan, layaknya artis disapa penggemar, tetapi ia belum tentu mahir memainkan kendang. Andi bisa menjadi penari dan juga pengendang. Boleh jadi sekarang Andi tidak akan setenar teman-temannya. Akan tetapi, ketika kemampuannya mengendang nanti sudah mahir, ia akan mampu menjadi kunci gamelan dalam berbagai pementasan. Tidak hanya ebeg saja, tetapi bisa juga kesenian lain, seperti wayang dan karawitan sehingga jangkauannya akan lebih luas.Semenjak berkunjung dan berguru kepada Ki Dalang, Andi makin mantap berlatih kendang. Sampai akhirnya andi tampil di kabupaten.
LINK:http://youtu.be/WRehgq5-zdw?hd=1
REVIEW BUKU DENGAN STT:
LINK : http://bit.ly/2m7A7my
Komentar
Posting Komentar